kawan senangkah kamu?
kawan bahagiahkah kau sekarang?
kawan adakah perasaan gundah di dirimu sekarang?
aku melihatmu terdiam memandangi hamparan padang rumput yang luas, memandang jauh ke arah cakrawala. sepanjang mata memandang, hijau, di hiasi beberapa pohon di antaranya. kawan, di manakah kau berada? pemandangan yang sungguh menyejukan mata itu, kau ada di mana?
aku melihatmu berlari di padang rumput itu, membelai rumput2 yang setinggi pinggang, sambil membentangkan tangan menghalau langit, kau berlari tanpa halangan, tanpa rintangan. kemana kau akan berlari kawan? adakah sebuah tujuan dalam benakmu kawan?
aku melihatmu dalam keadaan tersenyum, nampaknya kau bahagia. senyumu sungguh lebar, raut wajahmu menyeringai, rambutmu tertiup angin yang sejuk menerpa wajah. kawan, apa yang kau pikirkan sekarang? adakah yang kau pikirkan di waktu yang sungguh menyegarkan itu?
jujur, aku iri padamu kawan, aku juga ingin melihat pemandangan hijau itu. aku juga ingin ikut berlari bersamamu di padang rumput yang hijau nan luas, yang nampaknya sungguh menyenangkan. aku ingin menemanimu tertawa, berlari, tersenyum . . . melantunkan canda yang bisa buat kita tertawa. kawan, aku iri padamu, aku ingiin sepertimu, adakah aku bisa ke sana
hamparan hijau itu
Indonesia
Thursday, February 18, 2010
Friday, February 5, 2010
28 januari 2010
pagi itu angin begitu kencang, awan2 yang biasanya lamban, kini terbawa angin dengan cepatnya. pagi itu aku melihat langit, seperti waktu yang berjalan di percepat, seperti ku melihat video, yang di mainkan dengan kecepatan 2x lebih cepat. asap2 dari cerobong pabrik terbawa angin, bersatu di atas bersama dengan awan awan yang dengan cepatnya pula terbawa oleh angin.
ku meminum segelas cangkir madu panas ku yang ku buat sendiri, seperti yang di ajari mas husein kepadaku winter itu. hari semakin siang, semakin sang mentari menaiki singgasananya. di sini, di berlin, mentari tak pernah benar2 ada di singgasananya, seolah dia hanya menaik, dan tak sampai tempat tertinggi, ia turun kembali, dan berganti dengan sang rembulan jam 5 nanti. di sini, di berlin, seperti itu adanya, dan hampir tak pernah berubah.
aku berjaan ke arah halte di siegfriedstrasse siang itu. memperhatikan orang yang berbelanja ke sebelah kanan, netto dan rewe. di satu sisi aku berjalan ke arah kiri, menuju halte bus dan tram yang kebetulan menjadi satu, seiring ku berjalan dengan santai ke arah halte, beberapa orang mendahuluiku, seolah olah tergesah2, namun beginilah orang2 yang tinggal di jerman, terutama orang jerman. mereka berjalan dengan cepat, semampu mereka, seolah2 seperti awan yang di bawa angin hari ini, begitu cepat, tidak sepertiku, lambat, seperti awan yang jenuh seperti biasanya, mereka memanfaatkan waktu mereka sebaik mungkin.
bus sampai lebih dahulu kali ini, lebih cepat beberapa menit dari tram. dengan menunjukan smester tiket ku, aku pun menaiki bus 240, turun di magdalenenstrasse, diam sebentar, lalu menganalisa sedikit tempat sekitar, mencari letak u-bahn magdalenenstrasse. sejenak ku menoleh wajahku ke arah barat, angin menerpa wajahku, membisik di telingaku, membelai rambutku, dan menarik diriku perlahan. mengingatkanku akan setahun yang lalu, 28 januari 2009
1 tahun sudah ku lewati hari hari di berlin, tanpa teman lama, tanpa sahabat, tanpa kekasih, tanpa keluarga, tanpa adikku. setahun sudah ku merubah hidupku yang lebih semerawut dari sekarang, setahun sudah ku meninggalkan segala macam duka yang tak lagi menghantui kini, setahun sudah, ku berpisa dengan sahabat ku, yang tak mau lagi mengenalku.
setahun bagiku terasa sangat cepat, setahun ku terlalu cepat berlalu, mungkin terbawa angin yang memang mulai cepat kini. masa lalu ku, kemana kau pergi? ku ingin melihatmu, berbicara tentang dahulu, dan mengenang indah2 masa itu. tapi di sini semuanya tak ada yang lama, apa yang ku tinggalkan satu tahun lalu benar2 sudah tak ada. sudah huilang
perlahan aku berjalan ke arah u-bahn, menuruni tangga secara perlahan. seiring langkahku, seiring derap kaki ku, ku mulai merekam kembali secara mundur, kehidupanku mulai sekarang dan setahun ke belakang, betapa panjang waktu yang kulewati di sini, setahun ini, tanpa mereka
Subscribe to:
Posts (Atom)
