Tuesday, February 21, 2012

sekuntum bunga , di padang rumput

ia, sang pengembara
ia pengembara yang telah berjalan sangat jauh
ia pengembara yang telah bertemu banyak hal
ia pengembara yang saat itu, melintasi sebuah bunga yang indah
ia bergumam . . .
akankah bunga itu dapat mengisi hatinya, bila ia hanya memperhatikannya dan menantinya?
akankah sang bunga bergerak mengikuti dirinya berjalan bila tertiup angin?
seolah, bunga itu meberikannyaa kehangatan, bukan secara arti sebenarnya, tapi sang bunga sungguh benar2 menentramkan hatinya
di bawah rembulan mungkin bunga itu menutup dirinya, tanpa getar, dari dingin nya malam di padang rumput itu
dalam lamunannya ia bertanya, akankah sang bunga muncul kembali nantinya di pagi hari?
ingin sekali sang pengembara mengambil bunga itu, agar sang bunga kan ada selalu untuknya
dan sang pengembara bergumam
siapakah aku, siapalah aku untukmu, yang selancang itu ingin mengambilmu
sang pengembara hanya dapat memperhatikan sang bunga sejenak
membuat waktu berdetak selambat mungkin
karena saat itu sang pengembara hanya melewatinya
melihatnya
memperhatikannya
sekuntum bunga, di padang rumput

kami, pelayan

kami para pelayan
yang segan ketika memiliki sebuah harapan
akan adanya tambahan
dari akang juragan
atau juga para pelanggan
dari adanya uang sisipan
berupa sekedar tambahan
yang nantinya untuk sarapan
atau mungkin jajan
tapi yang kami dapat kembali berikan
hanyalah sebuah senyuman
yang tak berharap akan imbalan
kepada para pelanggan 

tertutup salju

berlin, menghitam. seolah awannya tidak bersahabat
udara perlahan mendingin, memberikan isyarat agar tak beranjak pergi keluar
dalam renungan jendela, sebuah tatapan tertuju lurus kedepan, tanpa sebuah objek, namun fikiran entah kemana
jantung terus berdegup memompa darah, tetapi di suatu tempat yang di panggil hati, sebuah orchestra tanpa irama terlantunkan
di tengah suara samar nafas berat, mata sayu, kantuk tak tertahan
menutup, membuka, menutup, dan membuka
melawan kenyataan, melawan kantuk, melawan keinginan tuk tertidur
tetapi seketika mata terbuka, ketika awan memutih, bukan kabut, melainkan salju
salju turun dengan deras, tanpa irama, tak beraturan
menutupi dataran dataran yang terpandang oleh mata
yang mungkin tak terjamak oleh raga
deras, begitu deras, seolah pertanda, seolah ingin memberikan isyarat
akan sesuatu yang terjadi
sebagaimana hujan yang membawa pesan, bagi mereka yang memang menanti
di kala jantung memompa darah, di tempat bernama hati, dentuman orchestra melamban, cenderung tak berirama lagi
seolah tahu pesan yang di bawakan oleh salju deras yang turun dari langit
tak berirama, tak memainkan orchestra, perlahan, sunyi
dan ketika jantung berusaha menyokong kehidupan, di tempat yang bernama hati, semuanya putih, tertutupi serpihan salju
yang perlahan, memenuhi ruang itu.
dan kini, hanya ada salju, tanpa nada, tanpa iraama

Jangan lupa tinggalkan kommentar ;D

My photo
Ketika renungan berkolaborasi dengan kata...