Thursday, February 18, 2010

Kawan

kawan senangkah kamu?
kawan bahagiahkah kau sekarang?
kawan adakah perasaan gundah di dirimu sekarang?

aku melihatmu terdiam memandangi hamparan padang rumput yang luas, memandang jauh ke arah cakrawala. sepanjang mata memandang, hijau, di hiasi beberapa pohon di antaranya. kawan, di manakah kau berada? pemandangan yang sungguh menyejukan mata itu, kau ada di mana?

aku melihatmu berlari di padang rumput itu, membelai rumput2 yang setinggi pinggang, sambil membentangkan tangan menghalau langit, kau berlari tanpa halangan, tanpa rintangan. kemana kau akan berlari kawan? adakah sebuah tujuan dalam benakmu kawan?

aku melihatmu dalam keadaan tersenyum, nampaknya kau bahagia. senyumu sungguh lebar, raut wajahmu menyeringai, rambutmu tertiup angin yang sejuk menerpa wajah. kawan, apa yang kau pikirkan sekarang? adakah yang kau pikirkan di waktu yang sungguh menyegarkan itu?

jujur, aku iri padamu kawan, aku juga ingin melihat pemandangan hijau itu. aku juga ingin ikut berlari bersamamu di padang rumput yang hijau nan luas, yang nampaknya sungguh menyenangkan. aku ingin menemanimu tertawa, berlari, tersenyum . . . melantunkan canda yang bisa buat kita tertawa. kawan, aku iri padamu, aku ingiin sepertimu, adakah aku bisa ke sana
hamparan hijau itu
In
donesia

Friday, February 5, 2010

28 januari 2010

pagi itu angin begitu kencang, awan2 yang biasanya lamban, kini terbawa angin dengan cepatnya. pagi itu aku melihat langit, seperti waktu yang berjalan di percepat, seperti ku melihat video, yang di mainkan dengan kecepatan 2x lebih cepat. asap2 dari cerobong pabrik terbawa angin, bersatu di atas bersama dengan awan awan yang dengan cepatnya pula terbawa oleh angin.
ku meminum segelas cangkir madu panas ku yang ku buat sendiri, seperti yang di ajari mas husein kepadaku winter itu. hari semakin siang, semakin sang mentari menaiki singgasananya. di sini, di berlin, mentari tak pernah benar2 ada di singgasananya, seolah dia hanya menaik, dan tak sampai tempat tertinggi, ia turun kembali, dan berganti dengan sang rembulan jam 5 nanti. di sini, di berlin, seperti itu adanya, dan hampir tak pernah berubah.

aku berjaan ke arah halte di siegfriedstrasse siang itu. memperhatikan orang yang berbelanja ke sebelah kanan, netto dan rewe. di satu sisi aku berjalan ke arah kiri, menuju halte bus dan tram yang kebetulan menjadi satu, seiring ku berjalan dengan santai ke arah halte, beberapa orang mendahuluiku, seolah olah tergesah2, namun beginilah orang2 yang tinggal di jerman, terutama orang jerman. mereka berjalan dengan cepat, semampu mereka, seolah2 seperti awan yang di bawa angin hari ini, begitu cepat, tidak sepertiku, lambat, seperti awan yang jenuh seperti biasanya, mereka memanfaatkan waktu mereka sebaik mungkin.

bus sampai lebih dahulu kali ini, lebih cepat beberapa menit dari tram. dengan menunjukan smester tiket ku, aku pun menaiki bus 240, turun di magdalenenstrasse, diam sebentar, lalu menganalisa sedikit tempat sekitar, mencari letak u-bahn magdalenenstrasse. sejenak ku menoleh wajahku ke arah barat, angin menerpa wajahku, membisik di telingaku, membelai rambutku, dan menarik diriku perlahan. mengingatkanku akan setahun yang lalu, 28 januari 2009

1 tahun sudah ku lewati hari hari di berlin, tanpa teman lama, tanpa sahabat, tanpa kekasih, tanpa keluarga, tanpa adikku. setahun sudah ku merubah hidupku yang lebih semerawut dari sekarang, setahun sudah ku meninggalkan segala macam duka yang tak lagi menghantui kini, setahun sudah, ku berpisa dengan sahabat ku, yang tak mau lagi mengenalku.

setahun bagiku terasa sangat cepat, setahun ku terlalu cepat berlalu, mungkin terbawa angin yang memang mulai cepat kini. masa lalu ku, kemana kau pergi? ku ingin melihatmu, berbicara tentang dahulu, dan mengenang indah2 masa itu. tapi di sini semuanya tak ada yang lama, apa yang ku tinggalkan satu tahun lalu benar2 sudah tak ada. sudah huilang

perlahan aku berjalan ke arah u-bahn, menuruni tangga secara perlahan. seiring langkahku, seiring derap kaki ku, ku mulai merekam kembali secara mundur, kehidupanku mulai sekarang dan setahun ke belakang, betapa panjang waktu yang kulewati di sini, setahun ini, tanpa mereka

Monday, January 11, 2010

Sebuah persepsi

'' Gak usah lah kamu sebut2 nama ku lagi, aku udah gak bakal ada lagi buat kamu!''
'' Aku gak ngerti! Maksud kamu gini tu apa? ''
semudah itu ya, kamu ingin pergi dari idupku . . ., semudah itu ya, kata persahabatan untuk di akhiri . . .
'' Aku jelasin juga kamu gak bakal ngerti Yan!!! ''
'' Aku gak sebodoh itu La! jelasin dulu please ''
aku gak bodoh, aku gak buta, aku bukan gak tahu apa apa, coba jelasin
'' Udahlah, ini demi kebaikan kamu sendiri, kamu gak perlu tanya dan kamu gak perlu tahu! ''
'' Nggak La! kamu musti ceritain ini semua la! kamu musti kasih tau kenapa la! ''
aku gak bakal tenang kalo kamu pergi, pergi begitu aja . . .
'' Selamat tinggal, tuk selamanya . . ., wi . . . ''
'' La! tunggu La! tunggu! ''
jangan! jangan menjauh!
'' . . . . . ''
'' La! La! Nela!!! ''


ia menjauh, terus menjauh, hingga ia tak terlihat lagi
begitu cepat ia menghilang, hingga sulit bagiku tuk mengingat wajahnya, ketika ia berlinang air mata tuk pergi dariku
terpaksakah hatinya
terpaksakah dirinya

dan aku terbangun dari mimpi burukku
semua terasa nyata saat ku bangun dari tidurku
terasa seolah ku dapat menggenggam nya
terasa seolah ku dapat membelainya
terasa seolah ku . . ., masih dapat melihatnya

mimpi burukku berlalu begitu saja, dan terulang tanpa di inginkan
bagai badai salju yang datang tak di inginkan
saljunya, seolah indah tuk menghiasi jalanan nanti
namun angin dan suhunya membunuh, membunuh mereka yang tak siap
begitu pula mimpiku
seolah ku melihatnya kembali
berbicara padanya dan merasakan keberadaanya
namun itu semua hanya mimpi burukku
yang kembali menghujam hatiku
melukaiku kembali

kamu telah lama pergi dan tak mungkin kembali
aku tahu
namun bayang mu mungkin terlalu nyata tuk hilang
semua itu hanya persepsi, mungkin
namun tetap, sebuah persepsi terlalu sulit untuk di bengkokan
untuk sadar dan bangun dari nya
bahwa presepsi ku hanyalah bayangan belaka
cuma mimpi semata

persepsi
entah mengapa otakku ini secara otomatis membentuk sebuah persepsi
semaunya, seenaknya, dan tak terkontrol
seolah mengatur alam bawah sadarku tuk berbuat demikian
sesungguhnya diriku sadar penuh akan ke-tidak-nyataan itu
tapi nampaknya alam bawah sadarku yang menggerakanku selama ini
otaku telah lama beristirahat dan terlalu lama beristirahat
membiarkan alam bawah sadar ku mengambil alih

aku sesungguhnya sadar akan persepsi - persepsi yang terlalu abstrak itu
namun tetap, sebuah presepsi terlalu sulit untuk di bengkokan
untuk sadar dan bangun dari nya
bahwa persepsi ku hanyalah bayangan belaka
cuma mimpi semata

sungguh ku ingin cepat-cepat terbangun dan mengatakan pada dunia aku menyayangimu, bukan mimpiku
aku tak ingin lagi di hantui mimpi-mimpi buruk itu dan berkata ku menyayangimu
aku tak ingin cuma membisu, terdiam melihatmu dan tak berkata bahwa ku sayang padamu
aku tak ingin cuma memperhatikanmu dan mengatakan dalam hatiku bahwa ku sayang padamu
aku ingin menggerakan mulutku di depanmu dan bilang aku sayang kamu
bukan bayangan itu

tapi itu semua hanya presepsi
atau, mungkinkah segalanya justru hanya presepsi
mimpi itu . . .
dirimu . . .
keinginanku . . .
kata kata yang ingin ku ucapkan . . .
rasa sayang ku . . .
persepsi
semuanya persepsi
hanya persepsi

Friday, January 8, 2010

Intermezo di siang hari, winter

salju bertaburan dari langit
seperti kapas yang perlahan jatuh ke tanah
terlihat jelas bentuk salju yang ada di atas jaketku
persis seperti di buku2, bagaikan bintang2 yang di rangkai menjadi 1
pagi itu pukul 12 siang, namun matahari sudah mulai turun dari singgasana nya
perlahan ku gerakan langkah ku
tanpa sarung tangan yang biasa ku kenakan, terasa sakit karena udara berlin yang di bawah 0 drajat
dentuman earphone yang kugunakan menemani jalanku
menghiasi dengan lagu2 nya
memberi makna sendiri ketika ku berjalan sendirian
sepatuku terlalu tipis untuk kugunakan pada jalan yang bersalju
salju2 itu terlalu tebal, sehingga masuk ke dalam sepatu ku
langkahku makin berat karena nya
lalu lalang orang yang melewatiku dan berpapasan dengan ku lebih sedikit dari biasanya
tak seperti summer, saat winter, mereka menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam ruangan
merasa cuada tak bersahabat dengan mereka di siang dan malam hari
salju, penghias langit yang biasanya hanya hitam atau biru
salju, sebuah pencair kemonotonan di negri yang urutannya hampir selalu begitu
yang selalu monoton
mungkin, tanpa salju, negri ini tak akan hidup
andai negri ini seperti indonesia, pastinya akan lebih hidup di siang hari nya
semua orang menikmati siang hari nya, walaupun pendek
apa kata mereka bila mereka hidup di sini?
apa kataku bila ku sekarang pergi ke indonesia kini?
tapi langkah demi langkah buat ku sadar
betapa kuasa nya sang illah, yang membuat dan mengatur segalanya sedemikian rupa
karena tanpanya, negri yang monoton ini, tak akan ia buat seindah ini dengan saljunya
dengan perubahannya
dengan kuasanya
allhamdulillah . . .

Thursday, January 7, 2010

Memori, Bunga mawar

Masa lalu . . .
sesuatu yang sudah terjadi, sebuah sejarah dalam hidup masing2 insan
sebuah momen, yang akan selalu terekam dalam ingatan kita
mungkin terlupakan, namun tetap kan melekat, walau sangat dalam dalam tumpukan ingatan kita
ingatan2 itu adalah memori kita, memori akan masa yang telah berlalu
memori memori itu menyimpan masa2 sedih, masa2 indah kita
seburuk apapun, dan seindah apapun itu, kan selalu ada
namun apa yang terjadi bila memori itu selalu berputar dalam benak kita
tak bisa hilang ataupun sirna begitu saja
ketika memori memori sedih itu mengingatkan kita, bagaimana pahitnya masa lalu
ketika memori memori indah itu membawa kita melayang kembali seperti dulu, hanya dengan mengingatnya
namun, apa yang terjadi bila justru memori memori indah itu yang melukai kita?


ya, memori memori indah itu bagaikan bunga mawar yang kita genggam, semakin erat kita menggenggam nya, semakin luka tangan kita oleh duri bunga itu
begitu juga sebuah memori
semakin kuat bayang memori itu dalam fikir kita, semakin sakit kita akan memori itu
yang telah berlalu dan tak akan terjadi dan terulang kembali
memori adalah sebuah sejarah, tak mungkin terulang kembali untuk ke dua kalinya
setidaknya tidak identik sama
andaikan ku dapat melupakan memori2 itu
maka ingin kulupakan betapa indahnya sesuatu yang membuatku sedih itu
andaik ku amnesia, mungkin ku hanya ingin menghapus memori bunga mawar itu
andai ku lupa, andai aku tak tahu
tapi, mungkinkah tanpa memori memori indah itu aku akan bahagia
ataukah justru tanpa memori memori itu aku tak dapat merasakan bahagia?
apakah arti bahagia?
apakah ketika kita tersenyum?
apakah ketika kita merasa puas?
apakah ketika kita merasa senang?
ataukah ketika orang lain senang kepada kita? tersenyum dan puas pada kita?
apakah bahagia adalah sesuatu yang hanya dapat di bayangkan dan hanya sesuatu yang sungguh abstrak?
andai bahagia adalah sesuatu yang sungguh nyata nantinya untuku, ku ingin ia tak menjadi bunga mawar yang bertangkai, berduri
ku ingin ia menawan tuk di lihat kembali
harum tuk di rasakan kembali
dan membuahkan senyum nanti

Tuesday, January 5, 2010

Metamorfosis

dulu, di bulan desember
aku, kaku
aku, egois
aku, segalanya yang buat ku jauh
pikiran ku adalah sebuah lensa cembung, terarah hanya pada satu titik
muungkin aku harus berubah menjadi cekung, mencoba konsentrasi pada berbagai hal
mencoba, menyimak segalanya
dari berbagai macam sudut pandang
dari berbagai pola pikir
dan mungkin sekarang waktunya
belajar untuk bernafas panjang
perbanyak tersenyum
mencoba untuk lebih tenang
belajar untuk memberi, dan hanya memberi, tidak menanti, atau berharap
tak perlu di ketahui, cukup di rasakan sendiri
hantarkan dengan halus, dan tak tergesa-gesa
aku ada untukmu, dan aku ingin kau tahu
aku ingin melangkah lebih panjang, tapi tak tergesa-gesa
mungkin hanya anganku belaka
mungkin hanya rencana saja
tapi biarlah waktu
yang membuat rencana dan anganku menjadi nyata

Sunday, January 3, 2010

di balik kacaku

aku ingin melihatmu lebih dekat
mungkin aku melihatmu sangat dekat
tapi aku hanya terdiam kini
suaraku tertahan, membisu
antara aku dan kamu, sebuah dinding yang tak terlihat
sesungguhnya aku mempehatikanmu dari sini, dari jarak yang tipis ini
mungkin bila ku berteriak sekarang, tembok itu akan rubuh
tapi, serpihan tembok kaca itu hanya akan melukaimu . . . .


sekarang, aku diam, meliahtmu
ku coba layangkan isyarat-isyarat bisuku padamu
dan kau menyahut nya
namun apakah kau mengerti?
dewi, coba buka matamu, lihat aku yang berdiri di sini
coba kau pahami isyaratku
aku tahu aku bagai pohon yang terlihat dungu, diam dan tak bersuara
maafkan aku yang tak bisa terbang bebas seperti elang disana
mungkin, isyaratku akan lebih baik dari suara buruku ini
tapi, apakah isyaratku dapat di lihat olehmu
apakah isyaratku cukup untukmu?
mungkinkah waktu kan biarkanku menggapai mu
apakah waktu sebaik itu?
apakah kau rasakan isyaratku, dewi
dari pohon di balik tembok kaca ini . . .

Jangan lupa tinggalkan kommentar ;D

My photo
Ketika renungan berkolaborasi dengan kata...