Thursday, October 20, 2011

puisi


dan puisi yang indah . .
bukanlah sekedar  rangkain kata - kata indah
namun ialah sesuatu
yang justru darinya timbul ribuan kata2 indah
justru ketika kau melihat matahari terbit atau terbenam
di saat itulah kau melihat 'sebuah' puisi
dan juga seperti ketika ku melihat mu
kau adalah puisi

a dream


i saw your red eyes in my blurry dream, was it really you? were you trying to tell something back there?
i was going to ask you, but your silent keep me away back from you
i tried to walk towards  you, but the distance was the same
i wanted to yell but my voice have no sound
if you could just tell me from far next time
instead of reapeting the same dream
not the silent you gave me
could you do that?

surat di dalam botol


bila ku beri tahu kamu, mati lah aku
tapi bila kamu tidak tahu, mati jugalah aku

bila bukan karena si ujang, tak perlu repot2 ku gelisah menghawatirkan hatimu. bukannya aku tak sebaik dulu lagi atau sesantai dulu, cuma si ujang udah kaya bagong kesurupan pengen nyeruduk kau. bukannya aku tidak sabar, aku hanya tak ingin hatikau tiba2 berbalik begitu saja dari diriku. aku ni bagai telur di atas tanduk, tak bisa apa2, mundur maju tak bisa, itula aku, aku berpikir kalau ku diam seperti ini saja kau kan pergi berpihak pada ujang. salahmu yang pergi ke bandung, sedangkan ku sendiri di sini, di medan. kalau ku minta hatimu, belum berbuah lah itu pohon yang ku tanam di dirimu, tapi kalau ku diam mungkin pohon itu kan ambruk nanti di sruduk si ujang.

ku mundur bukan berarti ku menyerah

jadi maafkanlah ku yang mungkin terkesan menyerah terhadap ujang, lagipula ku tak ada apa2 dari ujang, apa2 dia bisa. tapi lihat nanti, aku bukan orang yang hanya ingin diam melihatmu bersama ujang. walau pohonku tak tumbuh dalam hatimu dan tak berbuah, tapi ku kan menjadi pohon kuat itu dan tumbuh menjadi pohon yang kuat. kau lihat lah nanti, kau sabar saja di sana bersama ujang. sekarang si jangan berharap, tapi yak beginilah adanya. biarkan ku tanpa mu dan ujang untuk beberapa saat, dan kau kan lihat nanti, pohon yang kutanam sendiri

mungkin bulanan, atau tahunan, waktu untuk pohon itu untuk tumbuh
tapi untuk sesuatu yang  pantas untuk di nantikan
kan ku usahakan itu, dan menunggu
selama hayat
selama sehat

Wednesday, October 19, 2011

Haruskah


dan lagi, angin  itu bertiup . . .  memecahkan kesunyian malam dengan semilir bunyi nya
safron masih memandang beku caca yang terbaring di depannya, masker oksigen di mulutnya, bius di tangannya. caca terlihat sangat tak bersalah, ia tak mampu apa2, apa yang bisa safron harapkan dari orang yang tak mampu melakukan apa - apa ini. bukan safron tak ingin memaafkan caca atas apa yang pernah caca lakukan pada safron. hanya saja safron ingin berbicang dikit dengannya.

`maaf safron, tiba2 mengabarkan hal yang buruk, tante cuma ingin kamu tahu apa yang terjadi sama caca ketika kamu pergi' ucap ibunya di tengah kebisuan di kamar rumah sakit itu
maaf tante, saya baru bisa jenguk sekarang '
dulu caca ingin sekali ketemu ama safron, caca sadar kalau dia salah, caca cuma pingin ngelurusin semua'
tante paham kan apa yang terjadi?'
paham, tante paham betul, tante cuma pingin kamu tahu kalo caca berbuat sebisa mungkin supaya kamu denger penjelasannya'
tp dia ga bisa jelasin apa apa sama saya tante!'
' ia nak, sudah terlanjur, sudah telat . . . mudah2 an ia diberikan waktu untuk menjelaskan semuanya sama kamu ya, mudah2an . . .' air mata ibu nya caca menetes perlahan dari pipinya, ia mengambil tisu di sampinya nya dan mulai menyeka air matanya ' bisakah kau maafkan anak ibu ini nak safron?'
safron memandang ibu nya caca, dan perlahan melihat caca, lalu pergi ke luar ruangan

bukan hal sulit untuk safron memaafkan caca, atau melupakan semua perbuatan caca. hanya, mungkin masih ada rasa di hati safron yang ingin melihat bahwa caca memang benar2 berubah, safron ingin melihat dan berbicara kepada caca yang sekarang. safron hanya tak yakin bila ia memang memaafkan caca dan caca akan melakukan hal sama pada orang lain. seharusnya safron tak peduli akan cacaa, tak berhubungan lagi dengan caca, tak tahu menahu tentang caca. tapi apa boleh buat, caca sendiri yang berusaha masuk kedalam hidup safron untuk sekedar meminta maaf padanya akan sesuatu yang seharusnya tidak di gali dari kuburnya. dan kini safron sungguh terganggu akan hal itu.

seharusnya safron dapat memaafkan dirinya, bila saja caca tak lagi mencari dirinya, bila saja caca tak ingat lagi pada safron, bila caca yang duluan melupakan safron. dan safron berpikir, bukan dia yang harusnya melupakan cacaa, tapi caca yang seharusnya tidak masuk lagi dalam hidupnya

haruskah sebuah perbuatan terhapus begitu saja dalam memori kita
bagaimana? dengan memafkan? dengan melupakannya? atau menguburnya?
apakah sebuah kesalahan orang dapat hilang bila kita melupakan kesalahan nya?
ataukah kita harus melupakan orang itu demi kebaikan dirinya dan kita? agar tak terungkit lagi kesalahan mereka? . . .
ataukah justru lebih baik untuk begitu saja memaafkan kesalahannya tanpa ada sesuatu yang dapat ditunjukan, yang dapat di gantikan kepada sang korban?
semudah itu kah para manusia melupakan kesalahan orang lain?
begitu indah dan begitu nikmat menjadi sang pemaaf, tapi apakah mudah untuk menjadi sang pemaaf?
apakah tak ada keinginan lain di balik memaafkan itu sendiri? semacam retribusi mungkin? uang denda semacamnya?
munafik bukan menjadi seorang manusia yang memaafkan orang dengan di beri  sesuatu terlebih dahulu?
tetapi bukankah lebih munafik ketika ia memaafkan orang begitu saja dan mengubur kesalnya dalam2?
ataukah itu yang di sebut mulia?
atau itukah yang disebut ikhlas?
haruskah kita memaafkan orang atas kesalahannya begitu saja? . . . .

you'll never know

youll never know till you see
you think you have to see
you think you have to hear
you think you have to say hi


and you'll never know till you see twice
you think you have to speak
you think you have to tell a joke
you think you have to laugh

and again, you'll never know till you see for the 3rd time
you think you have to know the numbers
you think you have to know the adress
you think you have to know the birthday

but you'll never know when . . .
you will ask for dinner
ask to go together
ask to hold your hand

and probably you wont ever know, if you would go through all of that
maybe yes, maybe no
life, is an expectetion
nothing is revealed, it's a mist of future
we are not hoping for it
not also waiting for it
but. do and pray

Teriakan sang khayal


dimana langit tak berawan, lembah tak berangin, air tak mengalir.
diantara api dan air, langit dan bumi, malaikat dan setan.
ketika bumi berputar pada porosnya, berotasi pada orbitnya.
di sebuah ruangan pendulum berayun, seiring dirinya terbangun

Rintik hujan perlahan ,mengetuk jendela, memanggil tuk ditengok. Rerumputan menghijau lembab, nyanyian amphibi berpadu irama rintik hujan, membuat nada tersendiri, iringi gelap mendung sore hari. Di ruangan itu sunyi, sepi, hanya ada hembusan nafasnya dan juga degupan jantungnya sendiri. Andaikan malaikat penjemput nyawa datang menjenguknya, itu akan lebih baik daripada ia di tinggal sendiri, dalam kesunyian yang nyaris abadi

Hitungan hari harus ia lalui, hanya untuk menunggu sesuatu yang tak pasti, dan ia selalu menyesali, kenapa harus di sini, karena yang paling ia takuti, sendiri, tanpa ada yag menemani. Ketika kita sendiri, apapun bisa terjadi, tak terkecuali di tempat terbuka atau tertutup, tak bergantung pada matahari atau rembulan, tak peduli sunyi atau ramai, apapun, ketika kita sendiri, semuanya dapat terjadi.

Otak, adalah kekuatan yang terbesar melebihi panca indra, otak dapat menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada,bahkan ia memungkinkan untuk melakukan yang sebaliknya. Yang ia takuti bukanlah khayalan biasa belaka, yang ia takuti ialah bila, khayalannya nanti menjadi kenyataan, bahkan khayalan yang kemungkinan untuk terjadi nya sangat kecil bisa saja terjadi. Ya, yang ia takuti ialah khayalannya yang selama ini menjadi kenyataan, dan bukan hanya sekali. Ini yang membuat nya yakin ia tak boleh berhayal, dan terutama ia tak boleh sendiri di suatu tempat, atau ia akan berkhayal tentang sesuatu yang kemungkinan kecil akan terjadi nantinya, yang sebenarnya mungkin saja terjadi, sangat mungkin terjadi

Tapi, sekuat apapun ia bergerak ke sana sini, sekeras apapun ia berteriak, menjerit, sederas apapun ia menangis, untuk sementara ini ia hanya akan sendiri, dan lambat laun, ia akan bermain dengan khayalannya sendiri, yang mungkin, nanti akan benar2 terjadi

Bisu : gambar


ketika kabut masih tinggi, matahari belum berseri, dan ketika rembulan hendak pergi
ia menguatkan dirinya tuk berjalan, menikmati sang pagi. berjalan sangat perlahan, menjauhi rumah dan tak tahu akan ke mana ia pergi
ia berjalan terseok, dibebani oleh semua yang telah terjadi, ke pada dirinya, kepada keluarganya, kepada teman2nya, dan kepada semuanya
pandangannya kabur, di basahi oleh aliran air mata yang terus mengalir dari matanya, membasahi pipinya, sesekali ia menyeka air mata di wajahnya, tapi percuma, air itu terus mengalir di bawah matanya
angin perlahan berhembus, memainkan rambut pirang nya yang indah, mentari perlahan memeluknya dengan sinarnya, dan rembulan pergi meninggalkannya, hilang dari pandangan mata
di samping sebuah sungai ia terduduk, memandang wajahnya di atas air yang mengalir
menyeka wajahnya, lalu mengambil gambar diri nya sendiri
kulit yang putih, mata yang sayu, senyum yang palsu, seolah membisu
di tujukannya kepada seseorang, yang entah apakah orang itu akan menerimanya?
dan ketika matahari mulai meninggi, telepon genggamnya terlepas perlahan dari tangannya, ia tersungkur di atas bukit itu, tak sadarkan diri

senyum itu, senyum itu mungkin ialah senyum terakhir baginya, senyum palsunya, untuk seseorang di sana

Bisu : panggung

ketika layar terangkat, dimana penonton bersorak, telapak tangan saling bertemu membentuk sebuah irama baru yang seru. perlahan, suara suara itu memudar, hingga hilang, sepi, lalu hening. sorot lampu tertuju pada tengah panggung, dan tak lama kemudian ia memasuki lampu itu
ia melangkah perlahan ke kanan, ke kiri, lalu ia mulai tuk menari, perlahan, lalu mempercepat tariannya. penari2 lain mengikutinya, menari bersamanya, di atas panggung sandiwara. di atas sana, semua bermain dengan gemulai, ibarat pena seorang penulis, mereka terus menari tanpa henti
ketika itu semua memasang senyum mereka, memasang muka masam mereka, mengeluarkan tangis mereka, mengeluarkan expresi mereka, tapi semua itu palsu
kepalsuan itu seolah sesuatu yang di harapkan mereka sebagai apa mereka, yang di harapkan oleh nya, tapi semua itu palsu
mereka bermain di dalam sebuah kepalsuan hanya tuk memukau yang melihat
di atas lantai drama mereka ber akting, di sana mereka memulai, dan di atas itu juga lah mereka mengakhirinya
ketika mereka memulai langkah mereka seharusnya mereka mengerti, bahwa apa yang mereka lakukan akan terus berlanjut dan tak akan berhenti, terkecuali nyawa tuk menggerakannya sudah tak ada lagi
atau justru lampu yang menyorotinya sudah tak menyorotinya lagi
dan bila itu tidak terjadi, ya, selamanya, mereka, dirinya, akan terus menampilkan expresi2 palsu milik mereka, milik nya
dan seperti yang seharusnya terjadi, saat itu lampu yang menyorotinya mati, dan hanya lampu yang menyorotinya, dan seketika itu
penonton pun membisu melihatnya menghilang dari panggung
perlahan tapi pasti, ia akan terlupakan, oleh mereka, oleh teman2nya, oleh kenalannya, dan oleh seseorang yang tak ingin ia bila orang itu melupakannya
yang dimana, expresi yang bukan palsu itu, adalah untuknya semua . . .
lampu mati
layar turun
penonton membisu
semuanya membisu
ironi sebuah pantonim

Bisu : awal

ia menatap sekeliling rumahnya, merasakan hawa udara di sore hari, merasakan keheningan sejenak di sana
d isebuah kota kecil, jauh dari perkotaan yang ramai, dimana tempat ia di besarkan, tempat dimana ia memulai segalanya
di sana, di kota kecil itu ialah tempat tinggalnya, kampung halamannya, tempat bermainnya
tempat ia tersenyum, menangis, tertawa, marah
kini ia terduduk di depan terasnya, menikmati keadaan sekitar, mengingat keadaan itu baik2
berharap untuk tidak pernah kembali ke sana lagi
dan ia akan berjanji, tak akan kembali
tak akan kembali
tak akan
tidak
hingga suatu saat nanti
suatu saat nanti
saat nanti
dan nanti
karena .  . .
ia akan pergi
jauh dari sana
lebih jauh dari perkotaan itu sendiri
lebih jauh dari tempat terjauh yang ia pernah kunjungi
ia langkahkan kakinya menuju mobil yang akan mengantarnya
ia langkahkan kakinya sengan sekuat tenaga, yang berat ingin tuk tetap di sana
langkahnya. . . memulai kehidupan barunya
langkahnya meninggalkan masa kanak2nya
langkahnya membuat semua yang ia lihat, rasakan sekarang, sebagai sebuah memori di hari nantinya
ia melihat ke belakang, melihat sesuatu yang nantinya akan menjadi memori, melihat tempat asalnya, melihat tuk terakhir kalinya
sebuah awal yang tenang
sebuah awal yang sunyi
sebuah awal yang bisu

invisible bound

ketika sebuah pikiran bermain dan melemparkan pertanyaan2 rumit yang ak ingin di jawab oleh orang lain, dalam pikir nya, hanya ada pertanyaan2 berbelit yang akhirnya menimbulkan pertanyaan baru oleh sang pemikir. sebuah irealita pemikiran, tentang ikatan yang tak terlihat
. . .
...
.


year has passed
but still, you bound me to every second i breath
years without your voice, face, even your presence
but this bound still unbreakable, still invisible
how can i free my self from your shackle you've made
if you even stay in the shadow
if you even keep your self far enough from me
from my number
from my fb
far from all about me

but this invisible bound gives me another question

is there really a bound
a bound that schakle me every second im my mind
even in my dreams
your shackle seems drag me to see you in my dreams
to hear you
to feel you
but not being able to touch or to run after you
your shadow run like a light right in front of my eyes
left no time to say a word

is this bound real or even just an imagination?
is it my mind that too strong so created that bound it self?
or it is me who is being to weak, that let my self to be bounded?

not dare to answer
not dare saying if
not dare to dream again
not dare to look to the past

if there is one way to break this bound
i'd love to do it at all cost

remove the shackle
erase the bound
to become . . .
unbound

yang ku mau






memang benar
sebuah potongan detik atau mungkin mili detik tak dapat menceritakan apa yang terjadi
atau potongan waktu yang lebih cepat lagi, sangat cepat. hanya berupa sebuah klisse waktu
tapi aku mau
sebuah klisse yang dapat bercerita banyak kepada kita
sebuah klisse yang mencoba tuk menceritakan sebuah kisah di balik gambarnya
sebuah foto
ku ingin mengambil sebuah foto yang penuh makna di dalamnya
sebuah senyum yang dapat menggambarkan kebahagiaan di saat itu
kebersamaan yang menceritakan bahwa kita bersama2 waktu itu
tawa yang menceritakan canda dan tawa kita saat itu
aku ingin membuat klise itu semua
aku ingin gambarku dapat memberi tahu sesuatu pada mereka yang melihat
aku ingin gambarku bercerita
tentang orang yang ku foto
tentang keadaan di sekitarnya
tentang wajah dan seri tawa nya
tentang aku dan dia
tentang dia bagiku
yang ku mau
bukan cerita tentang foto
tapi foto tentang cerita
yang ku mau . . .
foto yang bercerita

Andai dan andai


bagaimana kalau . . .
sebuah kata yang sebenarnya penuh makna
tapi di balik makna2 yang tersembunyi di dalamnya
bersemayam satu makna penyesalan
akan sesuatu yang seharusnya tak terjadi
yang seharusnya bisa berjalan dengan alur atau bahakn cerita yang lain
yang seharusnya berjalan tidak terlalu baik

andaikan, dan jika, adalah kata2 yang sama
orang2 berharap agar tak melakukan sesuatu yang buruk bagi mereka
dan bahkan mereka justru berharap tidak melakukan sesuatu yang sangat indah
bila nantinya hanya akan untuk menjadi kisah klasik
hanya akan melukai mereka
karena orang orang justru akan terluka begitu mereka kehilangan sesuatu yang sangat indah bagi mereka
sangat indah bagi mereka
sangat berarti bagi mereka
secara mendadak atau lambat laun, seluruh hal yang memiliki nilai tinggi akan mencapai titik di mana nilai nya mencapai nol
dan di saat itu, dimana kata2 andaikan, jikalau di lontarkan kebanyakan orang

pertanyaannya adalah
haruskah menjalankan hidup yang datar tanpa harus mengucapkan kata pengandaian
haruskah membiarkan begitu saja penyesalan2 dan menutupinya dengan kata2 pengandaian
atau biarkan seluruh keindahan membawa tinggi ke atas langit, dan kata2 andai menyusul nantainya

dan apakah sebenarnya pengandaián
sesuatu yang lumrah
sesuatu yang memang kita butuhkan dalam hidup kita
atau justru sesuatu yang seharusnya tak kita ucapkan

dalam benaku menggema seluruh kata pengandaian
akan apa yang seharusnya tak terjadi
akan apa yang seharusnya ku lakukan
akan apa yang dulu ku inginkan
akan apa yang dulu tak ku inginkan
akan esok hari yang masih belum terjadi
akan beberapa jam nanti yang sesungguhnya masih belum dapat di prediksi
akan beberapa menit nanti, sebuah khayalan yang tak mungkin nyata
akan pengandaian itu sendiri

andai aku dapat mengerti andai . . .

Bukankah begitu, raul?

Raul memandang lurus kedepan, dengan pandangan nya yang hampa
ia menghela nafas, membuka sedikit mulutnya dan bernafas lewat mulut
raul duduk di beranda rumahnya, memandangi pejalan kaki dan mobil - mobil yang menelusuri müllerstrasse
tangannya ia gantungkan di pegangan beranda, duduk agak membungkuk, lesu, tanpa semangat
di sela lamunanya ia menggumam . . . ' dinda, engkau kemanakan apa yang biasa ku lihat'
pandangannya kembali penuh misteri, atau justru tanpa apapun . . .
raul yang ku kenang sungguh berbeda dari raul yang dulu ku kenal
dulu raul, di tempat yang sama
ia memandangi langit biru dengan penuh semangat
senyumnya ia selalu lemparkan kepada pejalan kaki di müllerstrasse
ia selalu membawa gitar nya ke beranda, menggenjreng beberapa lagu
bersiul sendiri dan di sela keceriaanya ia melantur sendiri . . . ' dinda, kau apakan hati yang lama beku ini'
lalu pandangannya liar ke sana kemari, penuh makna, atau justru hanya mengandung satu arti
dan saat itu ku tanya raul yang girang akan tingkahnya itu
dan jawabannya hanya satu . . . 'ardi kalau kau merasakan dan kau mengerti, ini cinta'
dan jawabannya tak berbeda bila ku bertanya sekarang padanya
. . . 'ardi, bila kau merasakan dan kau mengerti, ini cinta'
raul, sesungguhnya apa itu cinta yang kau katakan
apa arti cinta yang pernah kau umbar dengan semua lagu mu diberanda itu, dan arti cinta yang selalu kau lamuni di beranda kini
cintakah? yang membuat orang tersenyum dan riang?
cintakah? yang membuat orang membeku dalam lamunannya?
sebegitu bermuka dua kah cinta hingga membuat cinta sendiri seperti russian rullet, sebuah peluru dari 6 lubang, bedanya ini 50%, bukankah begitu raul?
tapi pertanyaanku sekarang, haruskah cinta yang mengatur kita?
bukankah cinta cuma selingan dalam hidup kita?
bukankah begitu raul?

Monotonie

still too far away, the road that i have to go on
with my own foot, with no clear target, with no clear aim
still, i dont understand
still, i cant imagine
meaning of i breath
meaning of this study
meaning of friendship i've made
meaning of leaving my beloved family and friends behind, in my own land
when people let you down so many times, until you cant depend them anymore
when people stare you down until you cant hold it anymore
when people think you are 'no one'
when eyes stare at nothing
my body become numb
my brain also
trying to break the ice in this live
wich bound me to monotonism
i want something diffrent
that can make me feel better, deleting this numb
before i reached the time
will it be?
from all thing that i hate
i just hate 1 thing
my self in this monotonism of life

Cronosphere

there was a time, once, when the water hang on the air
when the face hold still, none of muscle move
when the pendulum stop swinging
when people's laugh stopped half gapping
there's no wind can blow
no voice can be sounded
nothing can be moved
no one can breath
because, the time was stopped
right in it's second, or maybe more precise
it was right
when i saw you

suka, sayang dan cinta

suka
sesuatu yang akan selalu ada di setiap fotoku mengambil ancang2 menyentuh shutter
sesuatu yang selalu ku kagumi dari hasil jepretan ku
ketika sesuatu yang berbeda terjadi dalam minggu yang monoton
mencoba sesuatu yang benar2 baru
tertawa
tersenyum
wanita yang berwajah cerah
makanan yang pedas dan enak, macam sambal kubideh
bercanda tawa, berkumpul bersama, menghabiskan malam dengan celoteh ria


sayang
sesuatu yang selalu ingin ku jaga
sesuatu ingin selalu ku lihat
sesuatu yang ku ingin tahu keadaannya
yang selalu ku awasi keberadaannya
sesuatu yang selalu ku ingin jaga keutuhannya, keharmonisannya, tetap begitu apa adanya
yang ku ingin olehnya ku juga dapat merasakan 'suka'
yang ku ingin selalu ada untuk nya

cinta
sesuatu yang di berikan selalu oleh keluargaku untukku
yang selalu datang untuk pergi . . .

Dunia tanpa ujung waktu

bayangkani sebuah dunia yang di dalamnya waktu tak pernah berjalan maju
di dunia yang tak pernah ada masa depan
di dunia ini, waktu justru berjalan mundur
semua di mulai dari yang tua hingga yang muda
semua di dunia ini di mulai oleh tangisan, dan di akhiri dengan tawa
satu yang unik dari dunia ini
tak ada kesedihan di dalamnya
orang2 tak sedih atas wajahnya yang akan menua
karena justru wajah wajah mereka akan memuda
mereka tak perlu sakit hati karena di tinggal oleh cintanya atau keluarganya
karena justru mereka berjalan pada sebuah titik awal, titik pertaama, titik bahagia
dengan waktunya yang berjalan mundur mereka tak perlu khawatir akan masa depan
tak perlu khawatir akan anak2 mereka
saudara mereka
di dunia ini semua hanya memikkirkan diri mereka sendiri
menikmati masa muda yang selalu makin muda
hingga kembali ke perut ibu mereka
lalu, entah pergi kemana
kota kota di dunia ini makin lama makin indah, makin bersih
tak perlu khawatir oleh polusi dan panas yang melanda, karena itu hanya berlangsung di dunia nyata
sebuah dunia yang waktu bukanlah segallanya
waktu hanyalah sebuah petunjuk tak nyata bagi mereka
bagi kota kota itu
dan bagi dunia itu
dunia tanpa ujung waktu

Pulang!

Waktu berjalan begitu lambat
Ketika cahaya meredup
Suara - suara mendadak sunyi
Dan kesadaran menjadi sulit disadari

Waktu berjalan begitu lambat
Ketika tulisan di papan menari perlahan
Konsentrasi terpaku ke depan
dan mata terbuka - tertutup perlahan


Lalu, waktu mendadak berjalan sangat cepat
ketika mata kembali seluruhnya terbuka
Detak jantung berdetak cepat
Suara - suara bergema di telinga

Waktu berjalan sangat cepat
Diiringi detakan jam dinding yang tak mau melambat
Suara - suara kursi dari orang - orang yang resah
terlihat seolah tarian tulisan di papan akan segera berhenti
Mata pun kembali terbelalak


Waktu kembali berjalan normal
ketika tarian tulisan di atas papan benar - benar berhenti
semua berdiri
mulut - mulut berseri
tepat pukul 17.00 di sore hari

Tuesday, October 18, 2011

Protez!

ketika smua sudah tidak sesuai harapan
ketika semua sudah tidak sesuai dengan keinginan
haruskah aku tetap memaksakan?
memaksakan harapan dan keinginan?
kepadamereka yang tak bisa, atau bahkan tak mau mengerti . . .

ketika justru harapan tercapai
dan keinginan terwujud
haruskah aku menggaungkan harapan ku?
haruskah ku beri tahu mereka akan keinginanku?
kepada mereka yang sulit untuk menerima atau bahkan tak bisa menerima . . .

ketika kekecewaan melanda
ketika kesedihan di dada
haruskah ku beri tahu mereka?
haruskah mereka tahu?
ketika mereka mungkin akan mengacuhkanku atau mungkin mengabaikanku, atau senang akan berita itu . . .

dan lagi
siapakah aku?
orang yang di kenal karena diriku . . .
orang yang di kenal karena sekolah ku . . .
orang yang di kenal karena teman-temanku . . .
orang yang di kenal karena lingkunganku . . .
orang yang di kenal karena orang tuaku . . .
dan lagi
siapa aku?

mungkinkah lebih baik untuku bila ku tak dikenal
atau mungkin tak di ketahui keberadaanku
mungkinkah lebih baik bagiku bila ku bersikap lebih arogan
atau mungkin berusaha tuk mengatur semua
ataukah cukup dengan diriku apa adanya?

aku tak ingin dunia melihatku, karena ku tak yakin mereka akan dapat mengerti ku

Jangan lupa tinggalkan kommentar ;D

My photo
Ketika renungan berkolaborasi dengan kata...