Huajan turun . . .
. . . membasuh debu di atas jalanan
Hujan turun . . .
. . . mengusir pejalan kaki di atas terotoar
Hujan turun . . .
. . . Payung - payung menari
Hujan turun . . .
. . . menyembunyikan senyum
Pelangi tak pernah ada bila hujan tak berhenti, Pelangi juga tak pernah ada bila di nanti.
Rembulan malu bersenyum di malam hari, di belakang gagahnya awan - awan hitam
Tersembunyi tangisan luka menganga, di antara tangisan - tangisan langit. Mengaburkan pandangan mata, lupa akan tujuan berjalan
Teriakan tak terdengar, tangisan lirih tersamar oleh benturan - benturan air menyentuh tanah, bersama raungan guntur yang mencakar langit
Air menggenang seolah menampung tanda tanya, dari pertanyaan - pertanyaan tak terungkap
Tapi senyum tak dinanti muncul perlahan, anggun, menyentuh . . . Menghadirkan pelangi dini, dan hangat tak teraba
Ucap - ucap lembut lirih memecah melodi rintikan air hujan, dan mengabaikan lantang raungan guntur
Tegas tertutupi lembutnya senyuman anggun tak bertuan
Perlahan menyentuh hati dan menghentikan waktu, predator buas daripada bilah tajam lidah
Perlahan, semua berhenti saat senyum tak lagi tersembunyi, abadi tersimpan . . . dalam hati.
