Monday, June 4, 2012

Senyum dalam hujan

Huajan turun . . .
. . . membasuh debu di atas jalanan
Hujan turun . . .
. . . mengusir pejalan kaki di atas terotoar
Hujan turun . . .
. . . Payung - payung menari
Hujan turun . . .
. . . menyembunyikan senyum



Pelangi tak pernah ada bila hujan tak berhenti, Pelangi juga tak pernah ada bila di nanti.

Rembulan malu bersenyum di malam hari, di belakang gagahnya awan - awan hitam
Tersembunyi tangisan luka menganga, di antara tangisan - tangisan langit. Mengaburkan pandangan mata, lupa akan tujuan berjalan

Teriakan tak terdengar, tangisan lirih tersamar oleh benturan - benturan air menyentuh tanah, bersama raungan guntur yang mencakar langit

Air menggenang seolah menampung tanda tanya, dari pertanyaan - pertanyaan tak terungkap

Tapi senyum tak dinanti muncul perlahan, anggun, menyentuh . . . Menghadirkan pelangi dini, dan hangat tak teraba

Ucap - ucap lembut lirih memecah melodi rintikan air hujan, dan mengabaikan lantang raungan guntur

Tegas tertutupi lembutnya senyuman anggun tak bertuan

Perlahan menyentuh hati dan menghentikan waktu, predator buas daripada bilah tajam lidah

Perlahan, semua berhenti saat senyum tak lagi tersembunyi, abadi tersimpan . . . dalam hati.

Thursday, May 31, 2012

Debu

Berdebu, sungguh berdebu
melintang sepanjang mata memandang hanyalah debu
di bawah terik mentari debu2 itu menari tanpa henti
tak pergi, tak menepi
andai tetes air ada di atas debu itu, sekejap pun akan air itu hilang
hujan tak kian turun di atas hamparan debu ini
bukan air masalahnya
bukan makhluk lainnya
hanya sebuah kemonotonan yang ada
di atas debu2 yang tak berdaya
menari bersama hilir hembus angin
tapi satu hal
banyak yang akan ditemukan ketika debu2 tak berarti itu hilang
banyak yang dapat di manfaatkan di bawah2 debu itu
biarlah perlahan, secara konstan, sang angin membawa debu menari
menari menjauh, tuk menghilang
dan andai debu itu hilang
sedang menghilang
dan akan hilang

Saturday, May 26, 2012

Mati

Berjuta aksi tanpa makna, sedikit tindak dengan makna tersirat
Sayang, jutaan aksi terlalu ditafsirkan dengan berjuta pemikiran, dan tindakan yang sedikit terlupa begitu saja

Angin berhembus menebarkan serpihan kaca ke mata, membuat mata mata ingin buta, hati ingin membatu, telinga ingin menuli

Terlalu banyak bunga berguguran tanpa makna, terabaikan begitu saja. tidak di lirik, tak berdaun lagi, tak indah lagi. Begitu ia tidak hidup, begitu ia tidak indah, dicarinya kelopak bunga yang masih ada, yang telah gugur dari batangnya. Tapi percuma, tapi sia - sia, semua telah hilang, dan sang tangkai bunga hanya ingin menjadi debu saja, menyatu dengan tanah dan menghilang tuk selamanya, biar terlupa, biar di benci . . .

Darah mengalir tanpa rasa sakit, tangisan terisak tanpa air mata, teriakan terlontar tanpa suara

Layunan biola berpadu dengan dentuman drum dan instrumen lainnya, mengikuti ayunan tongkat kecil, membentuk melodi musik indah, yang perlahan membuai, seperti orkestra. Dalam, begitu dalam melodi yang di mainkan. Dan dalam suatu waktu, melodi kolaborasi alat musik itu berhenti bersamaan dalam satu waktu. Dikagumi, di segani, di elukan, lalu . . . Terlupa . . . Dilupakan

Seperti halnya angin yang menghembus, melambai dengan lembut, mengantarkan dalam tidur yang lelap. Dan ketika terpulas, angin itu entah kemana, entah dimana, entah bagaimana

Biarkanlah seperti bayangan saja, mengikuti dimana saja benda itu berada. Tak peduli apa benda itu, seperti apa benda itu, melakukan apa benda itu, tapi bayangan itu akan selalu ada, selalu bersama, selalu tersedia, selama ada cahaya . . .

Tak perlu indah atau wangi dari bunga mawar, yang secara perlahan dan diam - diam melukai dengan durinya

Hilang saja memori yang dapat dikenang untuk menjadi sakit kembali. Biarkan hilang, perlahan, atau mungkin cepat, dimakan oleh ganasnya waktu

Tapi walau sudah bersatu dengan tanah, berhembus entah kemana, atau sudah tak bermelodi lagi. Bunga itu pernah indah, angin itu pernah berhembus dengan lembut, melodi itu pernah berarti begitu dalam

Seperti rembulan yang indah, begitu indah, sangat indah, yang tapi nantinya akan terganti oleh sang mentari, atau begitu juga halnya mentari terhadap sang rembulan

Bukan Tuhan, Bukan setan. Bisa Mati, dan telah mati . . .

Thursday, May 24, 2012

sang pengharap rembulan

sang rembulan terlihat lebih indah malam itu
seolah lebih bersinar, seolah lebih dekat
menghias langit yang gelap nan gulita
dan sang makhluk siang yang hendak tertidur terpesona, tercengang. oleh keindahan rembulan di malam itu
tapi seperti mendirikan benang basah, ia berharap tuk membawa rembulan itu kedalam siang nya
menemani di hari nya, di siang harinya
tapi rembulan tak mungkin bertemu mentari, sebuah inspirasi yang telah lama di bentuk oleh si makhluk siang selama ribuan tahun lamanya
dan sang makhluk siang tak mungkin membuang mentari itu begitu saja
sama halnya seperti lama sang mentari tuk terbuat dari inspirasi si makhluk malam, ribuan tahun pula mentari dapat sirna
tapi begitu ingin sang makhluk siang membawa rembulan kedalam siang nya
ia tak peduli berapa lama mentari harus hilang dengan melupakannya
ber ratus ratus tahun, ber ratus ratus abad2 ?
ia secara nekat mulai mengabaikannya, mulai mengacuhkannya
secara sadar sang makhluk mengetahui apa yang ia lakukan
ia beranggapan, bila ia ingin mendapatkan sesuatu, maka ada sesuatu pula yang ia harus relakan tuk kehilangan
tapi yang ia tak waspada akannya ialah, ada kemungkinan untuk kehilangan semuanya, tanpa mendapat apa2
begitulah sang makhluk siang menginginkan sebuah sosok rembulan, dan berusaha melupakan inspirasinya, melupakan pemikirannya, melupakan prinsipnya, melupakan jati dirinya

Dilupa

terbisik hilir lembut smilir angin, terbawa terbang tinggi
bergek bekerja hingga keringat terkucur, menarik hampa
ribuan lilin tanpa cahaya, hanya lelehan lelehan yang ada
terbuai tatap semu, mencari yang tak ada
racun berbisa mengalir senadi darah, perlahan terkonsumsi oleh amarah
kata2 manis hanya sepah, berubah sumpah serapah
bunga pun melayu, seiring harap yang tersapu
buah matang tak bertuan, membusuk jatuh di atas tanah
dilakukan untuk dilupa
terucap tuk terlupa
dilihat tuk dilupa
ada tuk terlupa

Deep inside

matanya tajam
tetapi hatinya hampa
otaknya berputar penuh, memikirkan hal yang tak penting
ia jenuh, ia bosan, ia kesal
di kala sang mentari telah menampakan dirinya, ia masih terjaaga
di kala rembulan bersinar, hatinya tertidur, otaknya tertidur
matanya tertuju pada satu tujuan
hatinya terngiang satu hal
prilakunya berusaha mendapatkan sesuatu
tapi terkadang ia muak, tidak, ia selalu muak

apa yang ia usahakan, apa yang ia khawatirkan, apa yang ia fikirkan tak pantas ia lakukan
apa yang telah terjadi tak sebanding dengan apa yang ia dapatkan
ia muak akan apa yang telah terjadi dan tak ingin pusing memikirkan apa yang akan terjadi
sudah dari dulu ia membuang jauh2 pemikiran hati dan beralih pada logika

tapi logikanya mati
seperti hatinya yang telah lama mati
atau telah lama terkubur dalam dalam, hidup2
sungguh hati nuraninya masih ada. tapi ikut juga ia kuburkan bersama memory lainnya yang ingin ia kuburkan
ia nyalakan secercak obor harapan, walaupun kecil, walaupun sekedar harapan, walaupun untuk dilupakan


seketika wajahnya memerah
ia marah
bukan karena apa yang terjadi pada dirinya
tetapi karena mengapa ia dapat membiarkan semua itu terjadi padanya
merenung dalam keramaian, berpikir dalam kesunyian
ia menanti tuk sang rembulan dan mentari tuk bertemu
dalam satu waktu yang tak terbatas oleh jam dan menit
baginya kekesalan membawanya bertahan melewati harinya
baginya kekesalan adalah sumber cambukan diirinya
tapi kekesalan juga yang menjerumuskan dirinya

andai dirinya berdarah dingin
mungkin sebilah pisau kecil dapat membunuh
apa yang ingin ia bunuh
tapi sayang nya, darahnya sama panasnya dengan air yang mendidih
tapi sayangnya, semua sudah ada di hadapannya, tanpa ada nya tekanan atau pikiran berlebih


sungguh semua indah dan semua memory yang ia simpan dipahaminya dengan berbeda
yang ia tahu, salah satunya, sebagian darinya, dan secara keseluruhan

even a litle, even just a hope, evet meant to be forgotten

misteri, hujan

Rintikan air hujan tanpa di awali oleh teriakan sang langit
perlahan membahasi bumi
menurunkan suhu, dan memecahkan kemonotonan berlin sejenak
Di setiap tetesnya, tersembunyi mistery rezeki illahi. yang sengaja diturunkannya untuk kita
Di bawah tetesan hujan payung payung menari, melaju dan memutar
Genangan genangan air menghiasi jalanan, berkubang, dan menciptakan cermin semu
tetes Hujan turun perlahan seolah menutupi tangis dan teriakan kesedihan manusia
mengkaburkan kegalauan mereka
menutupi masa lalu mereka
hujan membuat mereka terpaku untuk melihat tetes itu. perlahan jatuh, dan membasahi bumi
seolah kelam kelabu menyelimuti hati, tapi senyum kan terus menanti sang pelangi nanti, mungkin di dini hari, atau siang esok hari
mereka akan menyukai kesan setelah hujan nanti, menghapuskan bau sengit di hari2 lampau
menghapus bau kenangan2 pahit
seolah menyediakan lembaran baru, di basahi, di bersihkan oleh hujan itu
dan hujan akan selalu membawa sebuah misteri
kini ataupun nanti
dan selalu ketika hujan turun, cerah menanti

Tuesday, February 21, 2012

sekuntum bunga , di padang rumput

ia, sang pengembara
ia pengembara yang telah berjalan sangat jauh
ia pengembara yang telah bertemu banyak hal
ia pengembara yang saat itu, melintasi sebuah bunga yang indah
ia bergumam . . .
akankah bunga itu dapat mengisi hatinya, bila ia hanya memperhatikannya dan menantinya?
akankah sang bunga bergerak mengikuti dirinya berjalan bila tertiup angin?
seolah, bunga itu meberikannyaa kehangatan, bukan secara arti sebenarnya, tapi sang bunga sungguh benar2 menentramkan hatinya
di bawah rembulan mungkin bunga itu menutup dirinya, tanpa getar, dari dingin nya malam di padang rumput itu
dalam lamunannya ia bertanya, akankah sang bunga muncul kembali nantinya di pagi hari?
ingin sekali sang pengembara mengambil bunga itu, agar sang bunga kan ada selalu untuknya
dan sang pengembara bergumam
siapakah aku, siapalah aku untukmu, yang selancang itu ingin mengambilmu
sang pengembara hanya dapat memperhatikan sang bunga sejenak
membuat waktu berdetak selambat mungkin
karena saat itu sang pengembara hanya melewatinya
melihatnya
memperhatikannya
sekuntum bunga, di padang rumput

kami, pelayan

kami para pelayan
yang segan ketika memiliki sebuah harapan
akan adanya tambahan
dari akang juragan
atau juga para pelanggan
dari adanya uang sisipan
berupa sekedar tambahan
yang nantinya untuk sarapan
atau mungkin jajan
tapi yang kami dapat kembali berikan
hanyalah sebuah senyuman
yang tak berharap akan imbalan
kepada para pelanggan 

tertutup salju

berlin, menghitam. seolah awannya tidak bersahabat
udara perlahan mendingin, memberikan isyarat agar tak beranjak pergi keluar
dalam renungan jendela, sebuah tatapan tertuju lurus kedepan, tanpa sebuah objek, namun fikiran entah kemana
jantung terus berdegup memompa darah, tetapi di suatu tempat yang di panggil hati, sebuah orchestra tanpa irama terlantunkan
di tengah suara samar nafas berat, mata sayu, kantuk tak tertahan
menutup, membuka, menutup, dan membuka
melawan kenyataan, melawan kantuk, melawan keinginan tuk tertidur
tetapi seketika mata terbuka, ketika awan memutih, bukan kabut, melainkan salju
salju turun dengan deras, tanpa irama, tak beraturan
menutupi dataran dataran yang terpandang oleh mata
yang mungkin tak terjamak oleh raga
deras, begitu deras, seolah pertanda, seolah ingin memberikan isyarat
akan sesuatu yang terjadi
sebagaimana hujan yang membawa pesan, bagi mereka yang memang menanti
di kala jantung memompa darah, di tempat bernama hati, dentuman orchestra melamban, cenderung tak berirama lagi
seolah tahu pesan yang di bawakan oleh salju deras yang turun dari langit
tak berirama, tak memainkan orchestra, perlahan, sunyi
dan ketika jantung berusaha menyokong kehidupan, di tempat yang bernama hati, semuanya putih, tertutupi serpihan salju
yang perlahan, memenuhi ruang itu.
dan kini, hanya ada salju, tanpa nada, tanpa iraama

Jangan lupa tinggalkan kommentar ;D

My photo
Ketika renungan berkolaborasi dengan kata...