Berjuta aksi tanpa makna, sedikit tindak dengan makna tersirat
Sayang, jutaan aksi terlalu ditafsirkan dengan berjuta pemikiran, dan tindakan yang sedikit terlupa begitu saja
Angin berhembus menebarkan serpihan kaca ke mata, membuat mata mata ingin buta, hati ingin membatu, telinga ingin menuli
Terlalu banyak bunga berguguran tanpa makna, terabaikan begitu saja. tidak di lirik, tak berdaun lagi, tak indah lagi. Begitu ia tidak hidup, begitu ia tidak indah, dicarinya kelopak bunga yang masih ada, yang telah gugur dari batangnya. Tapi percuma, tapi sia - sia, semua telah hilang, dan sang tangkai bunga hanya ingin menjadi debu saja, menyatu dengan tanah dan menghilang tuk selamanya, biar terlupa, biar di benci . . .
Darah mengalir tanpa rasa sakit, tangisan terisak tanpa air mata, teriakan terlontar tanpa suara
Layunan biola berpadu dengan dentuman drum dan instrumen lainnya, mengikuti ayunan tongkat kecil, membentuk melodi musik indah, yang perlahan membuai, seperti orkestra. Dalam, begitu dalam melodi yang di mainkan. Dan dalam suatu waktu, melodi kolaborasi alat musik itu berhenti bersamaan dalam satu waktu. Dikagumi, di segani, di elukan, lalu . . . Terlupa . . . Dilupakan
Seperti halnya angin yang menghembus, melambai dengan lembut, mengantarkan dalam tidur yang lelap. Dan ketika terpulas, angin itu entah kemana, entah dimana, entah bagaimana
Biarkanlah seperti bayangan saja, mengikuti dimana saja benda itu berada. Tak peduli apa benda itu, seperti apa benda itu, melakukan apa benda itu, tapi bayangan itu akan selalu ada, selalu bersama, selalu tersedia, selama ada cahaya . . .
Tak perlu indah atau wangi dari bunga mawar, yang secara perlahan dan diam - diam melukai dengan durinya
Hilang saja memori yang dapat dikenang untuk menjadi sakit kembali. Biarkan hilang, perlahan, atau mungkin cepat, dimakan oleh ganasnya waktu
Tapi walau sudah bersatu dengan tanah, berhembus entah kemana, atau sudah tak bermelodi lagi. Bunga itu pernah indah, angin itu pernah berhembus dengan lembut, melodi itu pernah berarti begitu dalam
Seperti rembulan yang indah, begitu indah, sangat indah, yang tapi nantinya akan terganti oleh sang mentari, atau begitu juga halnya mentari terhadap sang rembulan
Bukan Tuhan, Bukan setan. Bisa Mati, dan telah mati . . .

No comments:
Post a Comment