berlin, menghitam. seolah awannya tidak bersahabat
udara perlahan mendingin, memberikan isyarat agar tak beranjak pergi keluar
dalam renungan jendela, sebuah tatapan tertuju lurus kedepan, tanpa sebuah objek, namun fikiran entah kemana
jantung terus berdegup memompa darah, tetapi di suatu tempat yang di panggil hati, sebuah orchestra tanpa irama terlantunkan
di tengah suara samar nafas berat, mata sayu, kantuk tak tertahan
menutup, membuka, menutup, dan membuka
melawan kenyataan, melawan kantuk, melawan keinginan tuk tertidur
tetapi seketika mata terbuka, ketika awan memutih, bukan kabut, melainkan salju
salju turun dengan deras, tanpa irama, tak beraturan
menutupi dataran dataran yang terpandang oleh mata
yang mungkin tak terjamak oleh raga
deras, begitu deras, seolah pertanda, seolah ingin memberikan isyarat
akan sesuatu yang terjadi
sebagaimana hujan yang membawa pesan, bagi mereka yang memang menanti
di kala jantung memompa darah, di tempat bernama hati, dentuman orchestra melamban, cenderung tak berirama lagi
seolah tahu pesan yang di bawakan oleh salju deras yang turun dari langit
tak berirama, tak memainkan orchestra, perlahan, sunyi
dan ketika jantung berusaha menyokong kehidupan, di tempat yang bernama hati, semuanya putih, tertutupi serpihan salju
yang perlahan, memenuhi ruang itu.
dan kini, hanya ada salju, tanpa nada, tanpa iraama

No comments:
Post a Comment