'' Gak usah lah kamu sebut2 nama ku lagi, aku udah gak bakal ada lagi buat kamu!''
'' Aku gak ngerti! Maksud kamu gini tu apa? ''
semudah itu ya, kamu ingin pergi dari idupku . . ., semudah itu ya, kata persahabatan untuk di akhiri . . .
'' Aku jelasin juga kamu gak bakal ngerti Yan!!! ''
'' Aku gak sebodoh itu La! jelasin dulu please ''
aku gak bodoh, aku gak buta, aku bukan gak tahu apa apa, coba jelasin
'' Udahlah, ini demi kebaikan kamu sendiri, kamu gak perlu tanya dan kamu gak perlu tahu! ''
'' Nggak La! kamu musti ceritain ini semua la! kamu musti kasih tau kenapa la! ''
aku gak bakal tenang kalo kamu pergi, pergi begitu aja . . .
'' Selamat tinggal, tuk selamanya . . ., wi . . . ''
'' La! tunggu La! tunggu! ''
jangan! jangan menjauh!
'' . . . . . ''
'' La! La! Nela!!! ''
ia menjauh, terus menjauh, hingga ia tak terlihat lagi
begitu cepat ia menghilang, hingga sulit bagiku tuk mengingat wajahnya, ketika ia berlinang air mata tuk pergi dariku
terpaksakah hatinya
terpaksakah dirinya
dan aku terbangun dari mimpi burukku
semua terasa nyata saat ku bangun dari tidurku
terasa seolah ku dapat menggenggam nya
terasa seolah ku dapat membelainya
terasa seolah ku . . ., masih dapat melihatnya
mimpi burukku berlalu begitu saja, dan terulang tanpa di inginkan
bagai badai salju yang datang tak di inginkan
saljunya, seolah indah tuk menghiasi jalanan nanti
namun angin dan suhunya membunuh, membunuh mereka yang tak siap
begitu pula mimpiku
seolah ku melihatnya kembali
berbicara padanya dan merasakan keberadaanya
namun itu semua hanya mimpi burukku
yang kembali menghujam hatiku
melukaiku kembali
kamu telah lama pergi dan tak mungkin kembali
aku tahu
namun bayang mu mungkin terlalu nyata tuk hilang
semua itu hanya persepsi, mungkin
namun tetap, sebuah persepsi terlalu sulit untuk di bengkokan
untuk sadar dan bangun dari nya
bahwa presepsi ku hanyalah bayangan belaka
cuma mimpi semata
persepsi
entah mengapa otakku ini secara otomatis membentuk sebuah persepsi
semaunya, seenaknya, dan tak terkontrol
seolah mengatur alam bawah sadarku tuk berbuat demikian
sesungguhnya diriku sadar penuh akan ke-tidak-nyataan itu
tapi nampaknya alam bawah sadarku yang menggerakanku selama ini
otaku telah lama beristirahat dan terlalu lama beristirahat
membiarkan alam bawah sadar ku mengambil alih
aku sesungguhnya sadar akan persepsi - persepsi yang terlalu abstrak itu
namun tetap, sebuah presepsi terlalu sulit untuk di bengkokan
untuk sadar dan bangun dari nya
bahwa persepsi ku hanyalah bayangan belaka
cuma mimpi semata
sungguh ku ingin cepat-cepat terbangun dan mengatakan pada dunia aku menyayangimu, bukan mimpiku
aku tak ingin lagi di hantui mimpi-mimpi buruk itu dan berkata ku menyayangimu
aku tak ingin cuma membisu, terdiam melihatmu dan tak berkata bahwa ku sayang padamu
aku tak ingin cuma memperhatikanmu dan mengatakan dalam hatiku bahwa ku sayang padamu
aku ingin menggerakan mulutku di depanmu dan bilang aku sayang kamu
bukan bayangan itu
tapi itu semua hanya presepsi
atau, mungkinkah segalanya justru hanya presepsi
mimpi itu . . .
dirimu . . .
keinginanku . . .
kata kata yang ingin ku ucapkan . . .
rasa sayang ku . . .
persepsi
semuanya persepsi
hanya persepsi

No comments:
Post a Comment