seperti kapas yang perlahan jatuh ke tanah
terlihat jelas bentuk salju yang ada di atas jaketku
persis seperti di buku2, bagaikan bintang2 yang di rangkai menjadi 1
pagi itu pukul 12 siang, namun matahari sudah mulai turun dari singgasana nya
perlahan ku gerakan langkah ku
tanpa sarung tangan yang biasa ku kenakan, terasa sakit karena udara berlin yang di bawah 0 drajat
dentuman earphone yang kugunakan menemani jalanku
menghiasi dengan lagu2 nya
memberi makna sendiri ketika ku berjalan sendirian
sepatuku terlalu tipis untuk kugunakan pada jalan yang bersalju
salju2 itu terlalu tebal, sehingga masuk ke dalam sepatu ku
langkahku makin berat karena nya
lalu lalang orang yang melewatiku dan berpapasan dengan ku lebih sedikit dari biasanya
tak seperti summer, saat winter, mereka menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam ruangan
merasa cuada tak bersahabat dengan mereka di siang dan malam hari
salju, penghias langit yang biasanya hanya hitam atau biru
salju, sebuah pencair kemonotonan di negri yang urutannya hampir selalu begitu
yang selalu monoton
mungkin, tanpa salju, negri ini tak akan hidup
andai negri ini seperti indonesia, pastinya akan lebih hidup di siang hari nya
semua orang menikmati siang hari nya, walaupun pendek
apa kata mereka bila mereka hidup di sini?
apa kataku bila ku sekarang pergi ke indonesia kini?
tapi langkah demi langkah buat ku sadar
betapa kuasa nya sang illah, yang membuat dan mengatur segalanya sedemikian rupa
karena tanpanya, negri yang monoton ini, tak akan ia buat seindah ini dengan saljunya
dengan perubahannya
dengan kuasanya
allhamdulillah . . .

No comments:
Post a Comment