Wednesday, October 19, 2011

Haruskah


dan lagi, angin  itu bertiup . . .  memecahkan kesunyian malam dengan semilir bunyi nya
safron masih memandang beku caca yang terbaring di depannya, masker oksigen di mulutnya, bius di tangannya. caca terlihat sangat tak bersalah, ia tak mampu apa2, apa yang bisa safron harapkan dari orang yang tak mampu melakukan apa - apa ini. bukan safron tak ingin memaafkan caca atas apa yang pernah caca lakukan pada safron. hanya saja safron ingin berbicang dikit dengannya.

`maaf safron, tiba2 mengabarkan hal yang buruk, tante cuma ingin kamu tahu apa yang terjadi sama caca ketika kamu pergi' ucap ibunya di tengah kebisuan di kamar rumah sakit itu
maaf tante, saya baru bisa jenguk sekarang '
dulu caca ingin sekali ketemu ama safron, caca sadar kalau dia salah, caca cuma pingin ngelurusin semua'
tante paham kan apa yang terjadi?'
paham, tante paham betul, tante cuma pingin kamu tahu kalo caca berbuat sebisa mungkin supaya kamu denger penjelasannya'
tp dia ga bisa jelasin apa apa sama saya tante!'
' ia nak, sudah terlanjur, sudah telat . . . mudah2 an ia diberikan waktu untuk menjelaskan semuanya sama kamu ya, mudah2an . . .' air mata ibu nya caca menetes perlahan dari pipinya, ia mengambil tisu di sampinya nya dan mulai menyeka air matanya ' bisakah kau maafkan anak ibu ini nak safron?'
safron memandang ibu nya caca, dan perlahan melihat caca, lalu pergi ke luar ruangan

bukan hal sulit untuk safron memaafkan caca, atau melupakan semua perbuatan caca. hanya, mungkin masih ada rasa di hati safron yang ingin melihat bahwa caca memang benar2 berubah, safron ingin melihat dan berbicara kepada caca yang sekarang. safron hanya tak yakin bila ia memang memaafkan caca dan caca akan melakukan hal sama pada orang lain. seharusnya safron tak peduli akan cacaa, tak berhubungan lagi dengan caca, tak tahu menahu tentang caca. tapi apa boleh buat, caca sendiri yang berusaha masuk kedalam hidup safron untuk sekedar meminta maaf padanya akan sesuatu yang seharusnya tidak di gali dari kuburnya. dan kini safron sungguh terganggu akan hal itu.

seharusnya safron dapat memaafkan dirinya, bila saja caca tak lagi mencari dirinya, bila saja caca tak ingat lagi pada safron, bila caca yang duluan melupakan safron. dan safron berpikir, bukan dia yang harusnya melupakan cacaa, tapi caca yang seharusnya tidak masuk lagi dalam hidupnya

haruskah sebuah perbuatan terhapus begitu saja dalam memori kita
bagaimana? dengan memafkan? dengan melupakannya? atau menguburnya?
apakah sebuah kesalahan orang dapat hilang bila kita melupakan kesalahan nya?
ataukah kita harus melupakan orang itu demi kebaikan dirinya dan kita? agar tak terungkit lagi kesalahan mereka? . . .
ataukah justru lebih baik untuk begitu saja memaafkan kesalahannya tanpa ada sesuatu yang dapat ditunjukan, yang dapat di gantikan kepada sang korban?
semudah itu kah para manusia melupakan kesalahan orang lain?
begitu indah dan begitu nikmat menjadi sang pemaaf, tapi apakah mudah untuk menjadi sang pemaaf?
apakah tak ada keinginan lain di balik memaafkan itu sendiri? semacam retribusi mungkin? uang denda semacamnya?
munafik bukan menjadi seorang manusia yang memaafkan orang dengan di beri  sesuatu terlebih dahulu?
tetapi bukankah lebih munafik ketika ia memaafkan orang begitu saja dan mengubur kesalnya dalam2?
ataukah itu yang di sebut mulia?
atau itukah yang disebut ikhlas?
haruskah kita memaafkan orang atas kesalahannya begitu saja? . . . .

No comments:

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan kommentar ;D

My photo
Ketika renungan berkolaborasi dengan kata...