ketika kabut masih tinggi, matahari belum berseri, dan ketika rembulan hendak pergi
ia menguatkan dirinya tuk berjalan, menikmati sang pagi. berjalan sangat perlahan, menjauhi rumah dan tak tahu akan ke mana ia pergi
ia berjalan terseok, dibebani oleh semua yang telah terjadi, ke pada dirinya, kepada keluarganya, kepada teman2nya, dan kepada semuanya
pandangannya kabur, di basahi oleh aliran air mata yang terus mengalir dari matanya, membasahi pipinya, sesekali ia menyeka air mata di wajahnya, tapi percuma, air itu terus mengalir di bawah matanya
angin perlahan berhembus, memainkan rambut pirang nya yang indah, mentari perlahan memeluknya dengan sinarnya, dan rembulan pergi meninggalkannya, hilang dari pandangan mata
di samping sebuah sungai ia terduduk, memandang wajahnya di atas air yang mengalir
menyeka wajahnya, lalu mengambil gambar diri nya sendiri
kulit yang putih, mata yang sayu, senyum yang palsu, seolah membisu
di tujukannya kepada seseorang, yang entah apakah orang itu akan menerimanya?
dan ketika matahari mulai meninggi, telepon genggamnya terlepas perlahan dari tangannya, ia tersungkur di atas bukit itu, tak sadarkan diri
senyum itu, senyum itu mungkin ialah senyum terakhir baginya, senyum palsunya, untuk seseorang di sana

No comments:
Post a Comment