Wednesday, October 19, 2011

Bisu : panggung

ketika layar terangkat, dimana penonton bersorak, telapak tangan saling bertemu membentuk sebuah irama baru yang seru. perlahan, suara suara itu memudar, hingga hilang, sepi, lalu hening. sorot lampu tertuju pada tengah panggung, dan tak lama kemudian ia memasuki lampu itu
ia melangkah perlahan ke kanan, ke kiri, lalu ia mulai tuk menari, perlahan, lalu mempercepat tariannya. penari2 lain mengikutinya, menari bersamanya, di atas panggung sandiwara. di atas sana, semua bermain dengan gemulai, ibarat pena seorang penulis, mereka terus menari tanpa henti
ketika itu semua memasang senyum mereka, memasang muka masam mereka, mengeluarkan tangis mereka, mengeluarkan expresi mereka, tapi semua itu palsu
kepalsuan itu seolah sesuatu yang di harapkan mereka sebagai apa mereka, yang di harapkan oleh nya, tapi semua itu palsu
mereka bermain di dalam sebuah kepalsuan hanya tuk memukau yang melihat
di atas lantai drama mereka ber akting, di sana mereka memulai, dan di atas itu juga lah mereka mengakhirinya
ketika mereka memulai langkah mereka seharusnya mereka mengerti, bahwa apa yang mereka lakukan akan terus berlanjut dan tak akan berhenti, terkecuali nyawa tuk menggerakannya sudah tak ada lagi
atau justru lampu yang menyorotinya sudah tak menyorotinya lagi
dan bila itu tidak terjadi, ya, selamanya, mereka, dirinya, akan terus menampilkan expresi2 palsu milik mereka, milik nya
dan seperti yang seharusnya terjadi, saat itu lampu yang menyorotinya mati, dan hanya lampu yang menyorotinya, dan seketika itu
penonton pun membisu melihatnya menghilang dari panggung
perlahan tapi pasti, ia akan terlupakan, oleh mereka, oleh teman2nya, oleh kenalannya, dan oleh seseorang yang tak ingin ia bila orang itu melupakannya
yang dimana, expresi yang bukan palsu itu, adalah untuknya semua . . .
lampu mati
layar turun
penonton membisu
semuanya membisu
ironi sebuah pantonim

No comments:

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan kommentar ;D

My photo
Ketika renungan berkolaborasi dengan kata...