Wednesday, October 19, 2011

Bukankah begitu, raul?

Raul memandang lurus kedepan, dengan pandangan nya yang hampa
ia menghela nafas, membuka sedikit mulutnya dan bernafas lewat mulut
raul duduk di beranda rumahnya, memandangi pejalan kaki dan mobil - mobil yang menelusuri müllerstrasse
tangannya ia gantungkan di pegangan beranda, duduk agak membungkuk, lesu, tanpa semangat
di sela lamunanya ia menggumam . . . ' dinda, engkau kemanakan apa yang biasa ku lihat'
pandangannya kembali penuh misteri, atau justru tanpa apapun . . .
raul yang ku kenang sungguh berbeda dari raul yang dulu ku kenal
dulu raul, di tempat yang sama
ia memandangi langit biru dengan penuh semangat
senyumnya ia selalu lemparkan kepada pejalan kaki di müllerstrasse
ia selalu membawa gitar nya ke beranda, menggenjreng beberapa lagu
bersiul sendiri dan di sela keceriaanya ia melantur sendiri . . . ' dinda, kau apakan hati yang lama beku ini'
lalu pandangannya liar ke sana kemari, penuh makna, atau justru hanya mengandung satu arti
dan saat itu ku tanya raul yang girang akan tingkahnya itu
dan jawabannya hanya satu . . . 'ardi kalau kau merasakan dan kau mengerti, ini cinta'
dan jawabannya tak berbeda bila ku bertanya sekarang padanya
. . . 'ardi, bila kau merasakan dan kau mengerti, ini cinta'
raul, sesungguhnya apa itu cinta yang kau katakan
apa arti cinta yang pernah kau umbar dengan semua lagu mu diberanda itu, dan arti cinta yang selalu kau lamuni di beranda kini
cintakah? yang membuat orang tersenyum dan riang?
cintakah? yang membuat orang membeku dalam lamunannya?
sebegitu bermuka dua kah cinta hingga membuat cinta sendiri seperti russian rullet, sebuah peluru dari 6 lubang, bedanya ini 50%, bukankah begitu raul?
tapi pertanyaanku sekarang, haruskah cinta yang mengatur kita?
bukankah cinta cuma selingan dalam hidup kita?
bukankah begitu raul?

No comments:

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan kommentar ;D

My photo
Ketika renungan berkolaborasi dengan kata...